Senin, 19 Mei 2014



Anak Sebagai Amanah dan Lahan Tafakur

Kondisi bangsa kita yang sedang sakit ini adalah sebuah cerminan
bahwa keluarga-keluarga yang membentuk bangsa kita ini kurang sehat
karena siapapun yang menjadi penyebab rusaknya negeri ini dulunya
pasti anak-anak yang sempat dididik dalam sebuah keluarga.

Dua hal yang bisa kita ambil hikmah mengapa negeri kita diuji seperti
ini. Pertama, nila-nilai yang berlaku di keluarga-keluarga yang ada
di bangsa kita tidak tepat. Kedua, sistem pendidikan yang diterapkan
di negeri ini juga belum tepat, sehingga harus dievaluasi ulang.

Menyalahkan, mengutuk dan mencaci tidak akan pernah bisa
menyelesaikan masalah. Kalau kita belum bisa mengubah negara, marilah
kita mulai dari mengubah keluarga kita. Peran anak bagi orang tua
adalah sebagai amanah, cobaan, lahan tafakur, investasi pahala, dan
indikator kesuksesan dunia akhirat.

Pertama anak itu adalah amanah, bukan milik kita. Milik Allah segala
yang ada di langit dan di bumi, termasuk anak-anak kita. Kita
jangankan membuat anak, menggambar anak saja belum tentu sanggup,
bahkan membuat satu helai saja rambut tidak sanggup. Bagusnya jangan
membuat sombong dan kekurangannya jangan membuat minder, kemudian
melihat anak orang lain jangan iri, karena semuanya milik Allah.

Umurnya Allah yang menentukan. Mati-matian kita ingin anak panjang
umur, kita tak berdaya kalau pemiliknya akan mengambil. Walaupun
penguasa negara, tak dapat menguasainya kalau Allah tak menghendaki.
Yang penting bagi kita adalah menyikapi amanah ini dengan sebaik-
baiknya.

Kedua, anak sebagai cobaan (sudah diuraikan minggu kemarin).

Ketiga, anak sebagai lahan tafakkur.
Alangkah bahagianya jikalau
Allah mengaruniakan kepada kita hati yang bening. Gelas bening yang
berisi air bening, jika ada satu butir debu saja di dalamnya, maka
kita mudah melihatnya. Begitu pula orang tua yang memiliki hati yang
bersih, kalau melakukan kesalahan, maka ia bisa merasakannya, tidak
sibuk menyalahkan anak, tetapi sibuk mengevaluasi diri.

Alangkah beruntungnya orang yang berhati bersih, seperti gelas bening
yang di dalamnya ada cahaya.
Selain bisa menerangi seisi gelas, juga
bisa menerangi sekitarnya. Kalau kita ingin selalu mendapatkan ilmu,
maka rahasianya adalah bersihkan hati kita.

Begitupula orang tua yang berhati bersih, setiap kejadian apapun
senantiasa menjadi ilmu yang merupakan cahaya bagi dirinya dan
sekitarnya. Ilmu tidak datang dari orang yang lebih tua saja, bahkan
bisa datang dari anak-anak kecil.

Betapa banyak yang bisa kita tafakuri dari perilaku anak-anak kita.
Mereka jangan hanya dijadikan objek untuk mengekspresikan harapan
kita kepada mereka, tetapi perilaku mereka pun harus menjadi
pelajaran bagi kita.
Banyak yang bisa kita renungkan dari sikap anak
kecil itu, baik sisi positif maupun negatifnya.

Pertama, anak kecil itu tidak panik dengan rezekinya, tetapi mengapa
setelah dewasa banyak yang menjadi licik bahkan ada yang korupsi.

Kita tidak usah risau dengan rezeki. Yang harus dirisaukan itu benar
tidaknya cara kita menjemput rezeki kita.

Kedua, anak kecil itu memiliki semangat pantang menyerah. Ketika anak
belajar berjalan, dia jatuh bangkit. Tidak ada anak yang menyerah,
hingga akhirnya bisa berjalan. Ini ilmu buat kita. Kegagalan itu
bukan jatuh, tetapi kegagalan yang sebenarnya adalah kalau kita tidak
pernah mau berbuat.

Ketiga, anak kecil itu pemaaf. Mereka begitu mudah untuk memaafkan
dan berdamai, tetapi mengapa banyak orang yang semakin tua semakin
pendendam.

Keempat, polos (apa adanya). Anak kecil itu tidak banyak beban dalam
hidupnya karena mereka jujur sehingga merdeka hidupnya. Kita banyak
menderita dalam hidup ini karena sering ingin kelihatan lebih baik
dari kenyataan yang sebenarnya, sehingga malah menimbulkan masalah
baru.
Selain itu, kita juga bisa menafakuri kelakuan jelek anak-anak kita
untuk melihat apakah kita kekanak-kanakan atau tidak. Ada beberapa
perilaku anak kecil yang jangan ditiru, misalkan anak kecil itu
senang pamer. Ini banyak yang terbawa sampai tua.

Anak kecil juga suka memaksa dan ingin menang sendiri. Kalau
mempunyai keinginan harus diikuti, jika tidak maka ia akan memaksanya
tanpa mempedulikan apapun.

Menurut pengakuan beberapa koruptor kecil-kecilan mereka melakukannya
karena dipaksa oleh istrinya. Ini perilaku anak kecil.
Ya Allah, muliakan bangsa ini dengan Engkau muliakan keluarga-
keluarganya. Cahayai rumah tangga bangsa ini dengan cahaya hidayah-
Mu. Jadikan bangsa ini bangsa rahmatan lil alamiin, bukti dari