AMERIKA SERIKAT DAN MASALAH IRIAN BARAT
Pada
tahun 1961 masa jabatan kedua President Eisenhower berakhir.Penggantinya adalah
Presiden John F. Kennedy.Presiden Kennedy mengambil jalan yang berbeda dari
yang biasa di tempuh Presiden Eisenhower.Sementara Eisenhower banyak bersandar
para pembuat lebijakan luar negrinya, terutama Mentri Luar Negri John Foster
Dulles dan Direktur CIA Allen W. Dulles, Kennedy berusaha sedikit mungkin
bergantung pada para penasehatnya.Kennedy banyak mengandalkan hasil pemikirannya
sendiri, dia sendirilah yang memegang kendali atas politik luar negri
pemerintahannya.
Kennedy dan Indonesia
Pemerintah
Eisenhower memandang negara-negara yang baru merdeka sebagai calon potensial
untuk menjadi sekutu Negara-negara Blok Barat dalam konflik Perang Dingin
melawan Blok Komunis. Sebaliknya itu pemerintahan Kennedy ingin lebih
menghargai keinginan Negara-negara baru itu untuk bersikap netral dalam
antogonisme internasional, sambil berharap bahwa dengan begitu akan terjalin
hubungan kerja sama yang saling menguntungkan antara Amerika dengan
Negara-negara tersebut. Pemerintah Kennedy yakin, kerjasama semacam itu dalam
jangka panjang akan lebih efektif dalam mencegah Negara-negara itu menjadi
komunis daripada secara langsung menentang pemerintahan-pemerintahan yang
diduga condong ke kiri.
Sementara
pemerintahan Eisenhower menganggap posisi netral dalam politik internasional
sebagai tindakan amoral, Pemerintahan Kennedy menahan diri untuk tidak
melontarkan lebel seperti itu.Pemerintahan Kennedy menghargai kemerdekaan
nasional masing-masing Negara dan mengundang Negara-negara non-blok untuk
memperjuangkan kepentingan bersama dengan kami dalam melawan ekspansi
komunis.Pemerintahan Kennedy berusahan memahami posisi mereka dan bekerjasama
dengan mereka untuk memperkuat Barat dalam perjuangan melawan kubu
komunis.Sikap ini tercermin dalam pandangan-pandangan Kennedy atas politik luar
negri Indonesia yang berprinsip bebas-aktif.
Ada
dua kelompok penasihat utama yang membantu Presiden Kennedy dalam merumuskan
kebijakan-kebijakan luar negrinya. Kelompok yang pertama bersikap
anto-Indonesia dan anto-Presoden Soekarno, sedangkan kelompok yang kedua lebih
menganut cara pendekatan yang positif terhadap Indonesia maupun pemerintahan
Presiden Soekarno. Para penasihat yang berasal dari kelompok pertama cenderung
berpandangan Eropa-sentris, kususnya dalam melihat berbagai maslah menyangkut
kepentingan Belanda dan Indonesia.Orang-orang dari kelompok ini mendasarkan
pandangan mereka atas persahabatan yang sudah lama terjalin antara A.S. dan
Belanda. Alasan lain adalah pentingnya posisi Belanda sebagai sekutu A.S. dalam
pakta pertahanan NATO di Eropa Barat. Berdasarkan pertimbangan itu para
penasehat dari kelompok ini cenderung mendukung posisi Belanda atas bekas koloninya.Mereka
juga curiga bahwa pemerintahan Indonesia itu pro-komunis dan oleh karena itu
tidak selayaknya mendapat dukungan dari Amerika.
Berbeda
dengan Menteri Luar Negri Rusk dan CIA, kelompok penasehat yang kedua cenderung
membela Indonesia.Menurut mereka, dukungan terhadap Indonesia itu penting guna
mencegah ketidakstabilan politik yang dapat dimanfaatkan baik oleh kelompok
komunis local maupun komunis internasional. Dengan maksud agar Indonesia tidak
menjadi sumber krisis internasional baru yang akan menguntungkan Blok Komunis,
mereka mengusulkan supaya pemerintahan Kennedy menjalankan kebijakan-kebijakan
yang mendukung Indonesia, bahkan bila hal itu akan membuat Belanda merasa
gerah.
Kennedy dan
Masalah Irian Barat
Meski
dalam beberapa hal berbeda dari pemerintahan Eisenhower landasan kebijakan
pemerintahan Kennedy terhadap Indonesia sebagai Negara-negara Non-Blok lain
pada umumnya tetap sama, yakni menganggapi tantangan Perang Dingin.Pada satu
sisi pemerintahan Kennedy menanggapi berbagi perkembangan internasional ini
dengan berusaha membangun kembali hubungan A.S. dengan pemerintahan Presiden
Soekarno yang sebelumnya telah dirusak oleh dukungan pemerintahan Eisenhower
terhadap para pemberontak daerah. Pada sisi lain lahkah tersebut didorong oleh
keinginan yang sama dengan keinginan pemerintahan pendahulunya, yakni untuk
mencegah supaya dalam konteks perseteruan perang dingin Indonesia tidak makin
erat dengan blok komunis. Dengan kata lain kebijakan Kennedyterhadap
Indonesiamerupakan discontinuity (keterputusan) tetapi sekaligus continuity
(kelanjutan) atas kebijakan pemerintahan sebelumnya. Dua aspek ini tampak
sangat jelas dalam kebijakan pemerintahan Kennedy atas permasalahan paling
pelik di Indonesia pada saat itu, yakni masalah perselisihan Indonesia-Belanda
soal irian Barat.
Secara
etnis, budaya, dan religious masyarakatnya berbeda dari penduduk Indonesia di
wilayah-wilayah lain. Selanjutnya dikatakan bahwa menyerahkan wilayah itu di
bawah kekuasaan ekspansionis pemerintahan Indonesia.Ketika pemerintahan Kennedy
mengawali masa tugasnya pada bulan January 1961, perselisihan antara Jakarta
dan Den Haag atas Irian Barat sudah berkembang menjadi sebuah krisis
internasional.Pemutusan hubungan diplomatic Indonesia-Belanda secara sepihak
yang dilakukan oleh presiden Soekarno pada tahun 1960 mendorong kedua belah
pihak untuk menyelesaikan sengketa tersebut dengan menggunakan kekuatan
militer.Pada satu sisi, Washington ingin menerapkan politik anti-kolonial dan
menunjukkan rasa simpati kepada bangsa-bangsa Non- Blok yang baru merdeka
seperti Indonesia.Pada sisi lain, pemerintahan Kennedy juga tidak ingin
menghancurkan hubungan baik antara Amerika dengan Belanda.
Berhadapan
dengan dilemma tersebut Presiden Kennedy berusaha mencari masukan dari para
penasehatnya yang terdiri dari dua kelompok yang berlawanan itu.Bisa di duga,
para penasehat yang anti-Indonesia mendukung solusi bagi sengketa Irian Barat
hanya sejauh solusi tersebut menguntungkan Belanda. Sementara para penasehat
yang pro-Indonesia berpendapat bahwa sengketa soal Irian Barat akan dapat
diselesaikan dengan baik justru dengan cara mendukung posisi Indonesia.
Pemerintahan Kennedy mesti mendukung dan meyakinkan Presiden Soekarno mengenai
pentingnya membantu menyelesaikan masalah Irian Barat secara damai.
Dia
mendesak Wshington untuk berpihak kepada Indonesia dalam masalah ini sambil
mengatakan bahwa jika A.S mau mendukung Indonesia “Soekarno akan berpaling
kepada A.S. dengan sepenuh hati” lebih jauh ia menyarankan bahwa pemerintahan
Kennedy berperan aktif dalam menyelesaikan krisis ini. Dia kembali menegaskan
sikap dan keyakinan bahwa cara paling baik untuk menyelesaikan masalah
persoalan Irian Barat ini adalah dengan membiarkan Indonesia mengambil alih
wilayah tersebut.
Betapapun
banyaknya tekanan yang dating dari dalam maupun luar negri, pemerintahan
Kennedy tetap menolak untuk memberikan dukungan kepada posisi Belanda dalam
sengketa Irian Barat.Sikap ini tentu saja berbeda dari sikap yang diambil
pemerintahan sebelumnya. Namun demikian secara umum, dapat dikatakan bahwa
kebijakan pemerintahan Kennedy terhadap Indonesia banyak didasarkan pada
keinginan untuk mencari solusi terbaik atas masalah Irian Barat, suatu solusi
yang digarapkanakan memuaskan baik pihak Belanda maupuin pihak Indonesia. Sikap
ini menyiratkan adanya keinginan dari pemerintahan Kennedy untuk membangun
kembali hubungan baik dengan pemerintahan Indonesia.
Indonesia dan Masalah Irian Barat
Keinginan
pemerintahan Kennedy untuk membangun kembali hubungan baik dengan pemerintahan
Indonesia sudah tampak sejak awal ketika para penjabatnya mendesak Presiden
Kennedy untuk mengundang Presiden Soekarno agar bertemu dengannya secara
langsung di Washington. Bung Karno sendiri menyambut baik pemerintahan Kennedy
dan pandangan-pandangan dalam hal politik luar negri, khususnya berkaitan
dengan masalah Irian Barat. “Tolong sampaikan kepada Presiden Kennedy,” tutur
Bung Karno pada Jones tidak lama setelah pelantikan Kennedy,” bahwa rakyat
Indonesia berharap banyak darinya.
Sementara
itu perkembangan politik yang penting terjadi di Indonesia sejak pemerintahan
Eisenhower menghentikan dukungannya kepada kaum pemberontak. Angkatan darat
telah hamper sepenuhnya berhasil menumpas pemberontakan PRII dan Permesta.
Bersamaan dengan itu PKI terus melejit sebagai sebuah sebuah partai politik
yang semakin banyak pengikutnya. Bung Karno sendiri menyambut positif langkah
PKI untuk membina hubungan yang lebih dekan dengannya. Bung Karno sadar,
meskipun sangat kuat pada tingkat pemerintahan, dia tidak lagi mempunyai cukup
akses politik secara langsung ke rakyat, sebab resminya dia tidak lagi menjadi
anggota dari salah satu partai politik yang ada.Dia pun lantas membutuhkan PKI
untuk memberinya akses langsung kepada rakyat bawah, yang kebetulan makin
banyak di antaranya adalah pendukung partai komunis tersebut.
Ditengah
kegagalan diplomasi internasional itu pada akhir 1957 muncullah gagasan untuk
melawan Belanda di Irian Barat dengan menggunakan strategi yang dulu juga
pernah dihunakan untuk melawan Belanda yakni dengan strategi perjuangan.
Atyinya “membebaskan” Irian Barat harus dilakukan dengan menggunakan kekuatan
senjata.Baik PKI maupun Angkatan Darat mendukung gagasan tersebut, karena
keduanya ingin menggunakan gagasan itu untuk menunjukkan loyalitas mereka
kepada perjuangan rakyat Indonesia.
Walaupun
tidak yakin apakah Bung Karno akan mewujudkan ancamannya untuk menggunakan
kekerasan guna menyelesaikan sengketa Irian Barat, pemerintahan Kennedy tetap
ingin mengambil resiko bahwa perselisihan itu akan memanas menjadi konflik
militer internasional. Para pejabat di Washington takut bahwa pertempuran
terbuka akan benar-benar terjadi, sehingga pemerintahan Kennedy terdorong untuk
segera mencari solusi bagi masalah Irian Barat. Salah satu langkah yang lalu
ditempuh adalah membawa masalah tersebut ke PBB.
Pergeseran Sikap terhadap Indonesia
Meskipun
telah sangat keras dalam menyuarakan pendapat-pendapat mereka, para pendukung
posisi Indonesia hanya memiliki pengaruh kecil dalam perumusan kebijakan
mengenai masalah Irian Barat.Karena merasa percaya bahwa Amerika sendiri dapat
memberikan pengaruh yang besar pada kedua belah pihak yang bersengketa,
Harriman mengusulkan dipertemukannya Den Haag dan Jakarta dalam suatu
pembicaraan langsung.Demikianlah, pemerintahan Kennedy dengan segera mengambil
arah diplomasi yang baru dalam masalah Irian Barat, suatu arah yang akhirnya
menarik kembali posisi yang sebelumnya diambil oleh perwakilan mereka di PBB.
Menanggapai
laporan bahwa Bung Karno telah terlanjur merasa “hancur” oleh sikap
A.S yang
mendukung Belanda dalam majelis umum PBB, Presiden Kennedy mengirimkan sebuah
surat untuk menenagkan pemimpin RI tersebut. Bung Karno tidak berhasil
diyakinkan oleh surat tersebut. Pada tanggal 16 Desember 1961 ia menyampaikan
pesan kepada Kennedy bahwa Indonesia telah sungguh-sungguh mempertimbangkan
penggunaan kekuatan bersenjata di Irian Barat. Tiga hari kemudian pada tanggal
19 Desember, secara terbuka ia mengumumkan apa yang disebut “Trikora” (Tri
Komando Rakyat). Melalui Trikora Bung karno menyerukan kepada rakyat Indonesia
untuk : (1) mengerahkan kekuatan guna membubarkan Dewan Daerah yang tidak
dibentuk oleh Belanda untuk rakyat Papua; (2) pengibaran Sang Sala Merah Putih
di Irian Barat; (3) persiapan mobilisasi nasional untuk merebut kedaulatan atas
wilayah tersebut dari tangan Belanda.
Pengumuman
Trikora itu menciptakan suasana krisis di antara para pembuat kebijakan luar
negri A.S. yang merasa takut bahwa konflik militer langsung antara Belanda dan
Indonesia hanyalah masalah waktu saja.Mereka berusaha keras untuk mencegah
terjadinya konflik itu dan mendesak kedua pihak untuk mencari solusi damai.
Kesepakatan
Middleburg
Setelah
serangkaianmanuver diplomatis lebih jauh di antara semua pihak yang
berkepentingan, akhirnya Jakarta dan Den Haag sepakat untuk berunding di bawah
pengawasan PBB guna mencari solusi bagi persoalan Irian Barat. Negoisasi itu
akan ditengahi oleh pidak ketiga yakni Amerika Serikat.Indonesia menuntut nahwa
pengalihan pemerintahan atas wilayah tersebut kepada Indonesia syarat mendasar
untuk pembicaraan lebih jauh.Belanda, sebaliknya menekankan bahwa syarat untuk
berunding tentang pengalihan pemerintahan adalah tercapainya kesepakatan yang
memuaskan dalam hal penentuan nasib sendiri rakyat Papua.
Menanggapi
penangguhan tersebut, para pejabat di Washington merumuskan sebuah usulan dan
berharap bahwa Belanda dan Indonesia dapat menerimanya sebagai landasan bagi
dimulainya kembali pembicaraan di anatra keduanya.Setelah serangkaian diskusi
di Departemen Luar Negri A.S. dan gedung Putih, pada tanggal 29 Maret
Kementrian itu mengajukan sebuah usulan kompromis kepada Den Haag dan Jakarta.
Dikenal Formula Bunker, usulan tersebut mengharapkan: (1) suatu transfer Irian
Barat kepada Dewan Keamanan PBB, yang setahun kemudian akan diikuti oleh (2)
transfer wilayah tersebut kepada Indonesia, yang (3) kemudian akan member
kesempatan kepada rakyat Papua untuk memilih apakah hendak merdeka atau menjadi
bagaian dari Indonesia.
Formula
tersebut merupakan suatu langkah diplomatic yang cerdik. Secara langsung ia
menjawab dua hambatan utama perundingan dengan suatu solusi yang langgeng.
Indonesia akan dipenuhi tuntutan dasarnya, yakni soal peralihan kekuasaan,
namun pada saat yang sama keinginan kuat Belanda supaya rakyat Papua diberi hak
untuk menentukan nasibnya sendiri juga terakomodasi. Meskipun demikian
sebenarnya esensial formula ini lebih condong pada posisi Indonesia.
Masalah Irian Barat dan Perang Dingin
Mediasi
pemerintahan Kennedy itu menunjukkan bagaimana berbagai pertimbangan Perang Dingin
menetukan kebijakan-kebijakan terhadap Indonesia.Dukungan bagi Indonesia
sejalan dengan pertimbangan Perang Dingin untuk mencegah Indonesia yang netral
bergabung dengan Blok Komunis.Pertimbangan ini telah mendorong A.S. untuk
mengesampingkan sikap Belanda dan bahkan sikapnya sendiri sebelumnya menyangkut
masalah Irian Barat.
Ideologi,
tentu saja bukanlah satu-satunya alasan bagi pemerintahan Kennedy untuk
membantu menyelesaikan pertikaian seputar Irian Barat. Sebagaimana di dalam
berbagai kebijakan Amerika Serikat terhadap Indonesia sebelumnya, pertimbangan
ekonomi juga turut memainkan peran yang sama pentingnya.Setelah membantu
penyelesaian yang damai atas perselisihan Irian Barat, pemerintahan Kennedy
berusaha memanfaatkan momentum itu untuk membangun hubungan yang lebih dekat
dengan Indonesia dan pemimpinnya, Presiden Soekarno. Namun demikian upaya
terpenting pemerintahan Kennedy untuk memanfaatkan kesepakatan tersebut tampak
dalam inisiatifnya guna membantu Indonesia membangun kembali berbagai infratrukstur
ekonomi dan militernya
Analisis
Kebijakan-kebijakan
pada masa pemerintahan Eisenhower dan Kennedy kepada Indonesia sangatlah
berbeda jauh.Pemerintah Eisenhower memandang negara-negara yang baru merdeka
sebagai calon potensial untuk menjadi sekutu Negara-negara Blok Barat dalam
konflik Perang Dingin melawan Blok Komunis. Sebaliknya itu pemerintahan Kennedy
ingin lebih menghargai keinginan Negara-negara baru itu untuk bersikap netral
dalam antogonisme internasional, sambil berharap bahwa dengan begitu akan
terjalin hubungan kerja sama yang saling menguntungkan antara Amerika dengan
Negara-negara tersebut.Sementara pemerintahan Eisenhower menganggap posisi
netral dalam politik internasional sebagai tindakan amoral, Pemerintahan
Kennedy menahan diri untuk tidak melontarkan lebel seperti itu. Pemerintahan
Kennedy menghargai kemerdekaan nasional masing-masing Negara dan mengundang
Negara-negara non-blok untuk memperjuangkan kepentingan bersama dengan kami
dalam melawan ekspansi komunis. Pemerintahan Kennedy berusahan memahami posisi
mereka dan bekerjasama dengan mereka untuk memperkuat Barat dalam perjuangan
melawan kubu komunis.
Dalam
masalah Irian Barat Kennedy lebih senderung mendukung Indonesia karena disatu
sisi Kennedy ingin menjalin hubungan baik dengan Indonesia kembali dan ancaman
pihak Uni Soviet yang akan membantu Indonesia dalam konflik militer Irian
Barat.Ideologi, tentu saja bukanlah satu-satunya alasan bagi pemerintahan
Kennedy untuk membantu menyelesaikan pertikaian seputar Irian Barat. Sebagaimana
di dalam berbagai kebijakan Amerika Serikat terhadap Indonesia sebelumnya,
pertimbangan ekonomi juga turut memainkan peran yang sama pentingnya.